Simbol

 

Ilustrasi (Foto ist)

Penulis: Gibran Hairudin (Mahasiswa Sosiologi Universitas Sam Ratulangi Manadoo)

Tren-tren mahasiswa semester akhir yang sering ditemui belakangan ini adalah pengadaan banner skripsi. Beberapa orang mungkin mempertanyakan apa esensi daripada tren itu. Dan saya, sejauh ini pun juga mempertanyakan, untuk apa semuanya itu?

Dalam beberapa pembicaraan, teman saya menjelaskan bahwa tren semacam itu hanya menunjukkan eksisnya circle-circle di kalangan mahasiswa, atau istilah sosiologisnya hanya mempertegas in-group. Bahkan pembicaraan kita sampai pada pertanyaan bahwa, "kenapa tren semacam ini seperti perlombaan di kalangan mahasiswa? Tinggal menunggu inisiatif saja dari kampus untuk membuat lomba banner dan circle-circle terbaik”. Tentu ini hanya asumsi atas fenomena yang terjadi.

Tetapi, saya melihat fenomena ini sebagai usaha pemaknaan atas simbol-simbol, sebab manusia tidak terlepas dari penggunaan simbol dalam beraktivitas dan berinteraksi, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain (Homo Symbolicum & Symbolic Interracion). Dari sekian banyak teori dan perspektif dalam sosiologi dalam melihat fenomena ini, saya meminjam teori interaksi simbolik, yang berfokus pada perilaku peran, interaksi antar-individu, tindakan-tindakan serta komunikasi yang semuanya bisa diamati. 

Istilah interaksi simbolik ini mengacu kepada sifat khas dari interaksi antar manusia. Manusia saling menerjemahkan dan mendefinisikan tindakannya. Manusia bertindak bukan hanya dari reaksi atas tindakan orang lain, tetapi didasarkan atas “makna” yang diberikan oleh tindakan orang lain. Interaksi antar individu, sering menggunakan simbol-simbol dan interpretasi untuk saling berusaha memahami maksud dari tindakan masing-masing. 

Teori interaksi simbolik menekankan dua hal. Pertama, manusia dalam masyarakat tidak pernah lepas dari interaksi sosial. Kedua, interaksi dalam masyarakat mewujud dalam simbol-simbol tertentu yang sifatnya cenderung dinamis. Teori ini juga menjelaskan bahwa dalam prosesnya, tindakan manusia didasari pada pemaknaan atas segala sesuatu yang dihadapinya, proses ini disebut George H. Blumer (Teoritis Interaksi Simbolik) sebagai self-indication. Menurut Blumer, proses self-indication adalah proses komunikasi pada diri individu yang dimulai dari mengetahui sesuatu, menilainya, memberinya makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna tersebut. 

Blumer, mengemukakan beberapa ide dasar dalam interaksi simbolik, yaitu: (1) Masyarakat terdiri atas manusia yang berinteraksi. (2) interaksi terdiri atas berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan kegiatan manusia lain. (3) Objek-objek tidak memiliki makna yang intrinsik. (4) Manusia tidak hanya mengenal objek eksternal. Mereka juga melihat dirinya sebagai objek. (5) Tindakan manusia adalah tindakan interpretasi yang dibuat manusia itu sendiri. (6) Tindakan tersebut saling berkaitan dan disesuaikan oleh anggota-anggota kelompok. 

Dari 6 ide dasar Blumer, kita bisa menarik 3 premis utama, yaitu; (1) manusia bertindak berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu bagi mereka. (2) makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain. (3) makna-makna tersebut disempurnakan  ketika proses interaksi sosial sedang berlangsung. Menurut Blumer, actor akan memilih, memeriksa, berpikir, mengelompokkan, dan mentransformasikan makna sesuai situasi dan kecenderungan tindakannya. 

Dalam konteks tren banner, individu dan kelompok  melihat dan mentransformasikan makna serta tindakan dari individu dan kelompok yang lain. Mereka masuk pada proses self indication. Beranjak dari proses itulah, tercipta suatu makna sehingga memicu keputusan untuk ikut meramaikan tren banner. Terdapat kolektivitas yang bekerja dalam mengikuti tren ini. Setelah melihat makna dan tindakan kelompok lain, para mahasiswa yang memiliki circle se-frekuensi berembuk. Mereka mendiskusikan bagaimana segala konsep desain banner hingga tercapai pada tujuan serta keinginan yang sama. Dari sini, meminjam istilah Blumer, joint actions (tindakan bersama) terbentuk. 

Jadi bisa dikatakan bahwa tren banner skripsi ini merupakan situasi simbolik yang direspon oleh para mahasiswa secara refleksif dan kreatif. Ada pemaknaan tersendiri yang diciptakan dalam kreativitas para mahasiswa di dalamnya. Ada kebahagiaan yang dituangkan secara simbolik. Tetapi, situasi simbolik cenderung bersifat dinamis, bisa jadi makna yang diperoleh dari tren banner berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan interpretasi dan pengalaman-pengalaman individu melalui interaksi sosialnya. Entah tren apa berikutnya yang menjadi simbolisasi dalam euforia keberhasilan studi para mahasiswa, yang pasti orientasinya adalah pada ‘wajah’ kebahagiaan.


Kepustakaan;
Ritzer, G. 2007. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Johnson, P.D. 1986. Teori Sosiologi: Klasik dan Modern jilid II. Diterjemahkan oleh Robert M.Z Lawang. Jakarta: PT Penerbit Gramedia.

Ahmadi, D. 2008. Interaksi Simbolik: Suatu Pengantar. Mediator: Jurnal Komunikasi. Vol. 9. 301-316.

Comments