Ferry Daud Liando (foto ist)
ACTA DIURNA, MANADO - Pembina Pusat Studi Demokrasi (PSD) Ferry Daud Liando membawa materi dalam diskusi yang digelar oleh PSD yang bertemakan “Dinamika dan Tantangan Politik 2022 Menuju Pemilu 2024”, Jumat (4/2/2022).
Liando memandang, momentum pemilu harus dimanfaatkan dengan baik oleh pihak penyelenggara maupun partai politik (Parpol) dengan mekanisme pendidikan politik, terutama pendidikan politik oleh parpol bagi kadernya untuk dipersiapkan sebagai calon.
“Hasil pemilu 2019 belum sepenuhnya menghasilkan anggota DRPD yang berkinerja baik,” jelas Liando.
Ia menilai, dalam hal kemampuan dasar, masih banyak anggota DPRD yang belum pernah menyampaikan gagasan di forum-forum resmi baik di fraksi, komisi maupun di paripurna.
“Hal itu terjadi karena kemampuan publik speaking sangat terbatas. Mereka belum terlatih sebelum terpilih menjadi anggota DPRD. Itulah sebabnya kebijakan politik di daerah lebih banyak didominasi dan dikuasai oleh eksekutif,” tutur Dosen Kepemiluan itu.
Selain itu, kemampuan perencanaan anggaran dan analisis hukum sangat terbatas, hal ini berdampak pada kurangnya kemampuan mereka dalam memperjuangkan kepentingan publik.
“Sebagain ada yang harus berurusan dengan hukum karena masalah moral. Hasil yang buruk ini disebabkan karena tidak adanya kepedulian parpol dalam mendidik dan melatih kader-kadernya sebelum menjadi calon,” ungkapnya.
Liando menilai, sebagian parpol masih mengutamakan masyarakat yang sanggup menyetorkan uang sebagai syarat untuk dicalonkan parpol dan sebagian pula masih menonjolkan hubungan keluarga untuk dicalonkan.
“Proses pendidikan dan kaderisasi masih langka dalam proses seleksi caleg di Sulut. Padahal setiap tahun semua parpol yang memiliki kursi di DPRD mendapat bantuan dana yang bersumber dalam APBD,” ucapnya.
Ia melanjutkan, bantuan itu sesungguhnya dimaksudkan agar parpol bisa menjalankan fungsi kaderisasi jauh sebelum tahapan pemilu di mulai. Namun yang terjadi, parpol nanti sibuk menyiapkan calon disaat tahapan pendaftaran dimulai.
“Oleh karena itu saya mendorong agar waktu yang panjang sebelum tahun 2024, masing-masing parpol sudah mulai menjaring nama-nama kader yang potensial kemudian mereka dilatih soal kepemimpinan, manajemen, hukum, tata kelola pemerintahan dan etika moral,” ujarnya.
“Sebab skill-skill ini yang dibutuhkan sebagai bekal mereka jika terpilih menjadi anggota DPRD nanti,” tandas mantan Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fispol Unsrat itu.
Selain Liando, beberapa pembicara turut hadir dalam diskusi tersebut, diantaranya:
- Prof. Firman Noor PhD selaku peneliti senior Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
- Meidy Tinangon S.Si M.Si selaku Komisioner KPU Sulut juga sebagai pendiri GMM
- Junior Rawis selaku Direktur PSD GMM.
Diskusi yang digelar secara daring ini, dipandu oleh Mineshia Lesawengen selaku peneliti PSD GMM. (Anatasya Patricia Kilis)
Comments
Post a Comment