Merespon Dinamika Sosial yang Terjadi di Kampus, GMNI Fispol Gagas Diskusi Lintas Komisariat



Foto ketua-ketua komisariat saat diskusi berlangsung (foto ist)

ACTA DIURNA, Manado - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat Swaradika, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fispol) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) bersama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fispol Unsrat, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Komisariat Unsrat serta Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado gelar Diskusi Lintas Komisariat.

Mengangkat tema "Menakar Esksistensi Pergerakan Mahasiswa dalam Menyikapi Dinamika Sosial Dilingkungan Kampus", diskusi terlaksana di Cafe Kopico, Sabtu (08/01/2022) kemarin.

Febrianto Arifin sebagai Ketua Komisariat (Kekom) GMNI Fispol Unsrat menyampaikan bahwa Diskusi Lintas Komisariat ini digagas oleh Komisariat Swaradika GMNI Fispol Unsrat yang dilatarbelakangi fenomena sosial di lingkungan kampus.

"Diskusi lintas komisariat ini digagas oleh kami sendiri, Komisariat Swaradika GMNI Fispol Unsrat dengan mengajak teman-teman organisasi cipayung seperti PMII, HMI dan PMKRI. Latar belakang atas terselenggaranya diskusinya ini dimana kami melihat fenomena sosial dilingkungan kampus seperti matinya demokrasi kampus, pelecehan seksual, matinya nalar kritis mahasiswa serta praktek kultur feodal oleh para pimpinan kampus," jelasnya.


Dokumentasi foto bersama (foto ist)

Febrianto menambahkan bahwa penting untuk membuat diskusi dan menjadi perhatian bersama sebagai respon kita atas dinamika sosial di lingkungan kampus.

"Dalam rangka merespon atas semua dinamika sosial tersebut maka saya rasa penting untuk menjadi perhatian kita bersama dan membuat suatu diskusi untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut," ujar mahasiswa yang kerap disapa Bung Anto.

Ia menjelaskan bahwa yang menjadi sasaran utama dari agenda ini adalah organisasi cipayung dalam hal ini Komisariat yang ada di lingkungan kampus.

"Yang menjadi sasaran utama dari agenda ini adalah organisasi cipayung dalam hal ini komisariat yang ada dilingkungan kampus tentang apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan kedepannya ketika terjadi masalah sosial di lingkungan kampus," ungkap Bung Anto.

Ia pun turut menuturkan beberapa hal yang ingin dicapai lewat diskusi ini seperti "Menghidupkan kembali demokrasi kampus bagi mahasiswa sebagai wadah dialektika mahasiswa, kedua terkait isu pelecehan seksual. Saya rasa penting ada tindakan nyata dari organisasi pergerakan untuk mengawal dan bergerak," jelas Kekom GMNI Swaradika.

Febrianto berharap semua yang terlibat dalam diskusi ini senantiasa menjaga kekompakan dan bersatu teguh. 

"Untuk semua pihak yang terlibat dalam diskusi saya berharap tetap jaga kekompakan, tetap bersatu teguh dalam satu barisan perjuangan untuk melawan segala bentuk ketidakadilan di lingkungan kampus," tandas mahasiswa Ilmu Politik Fispol Unsrat itu.

Pamflet kegiatan 

Sementara itu, Hizkia Yosia Kherenle Rantung selaku moderator mengatakan, "Diskusi ini sangat menarik, ketika kita menyikapi dinamika sosial di lingkungan kampus itu butuh persatuan. Oleh karena itu sinergitas antara organisasi cipayung itu harus jalan, eksistensi pergerakan jangan sampai pada diskusi ini, terus bersinergi/berkolaborasi dengan esensi sebagai mahasiswa," ungkap mahasiswa Ilmu Pemerintahan tersebut.

"Intinya kita selalu kritis dan progresif," pungkas Ketua Biro Advokasi dan Propaganda GMNI Swaradika itu. (Ekleysia Werot)

Comments