Puisi : Mataku Buta Tertumpah Darah

 

Foto Penulis, Muhammad Farizt (foto ist)
Karya: Muhammad Farizt dan Nona Pejalan.


Bercerita asa pada langit di ujung biru

Mata tertungkup pada malam seribu abad

Nelangsa rakyat bertutur sedih

Merangkak pada ketumpahan darah yang membanjiri


Tirai kebusukan terbuka separuh

Pencurian besar-besaran tak tahu malu

Dari kalangan menteri yang menjadi benalu

Membuat rakyat mati satu persatu

Dosa siapa, dosa siapa, dosa siapa?


Di langit subuh

Burung kacer berseru pada merpati

Merpati berseru pada kenari

Kenari berseru pada gagak

Gagak berseru pada elang

Tolong.. kami diporak-porandakan 3x

Teriak rakyat di pagi buta, berdoa dan tersungkur


Manusia bertabur serakah

Mati dalam kepayahan, yang tak teringat

Ruang-ruang gunung menyempit dan bertanya

Siapa dan bagaimana akhirnya?

Hingga kembali tanpa busana

Tanpa pikiran, mereka habis karena uang


Lampu-lampu laut bercerita kesal pada ombak

Bertanya ia

Untuk siapa dan kemana?

Hingga kembali tanpa apa-apa


Tanpa siapa-siapa, mereka habis karena uang


Tiang-tiang langit mengutuk dari atas

Bertanya dan menggerutu

"Kenapa dan untuk apa, sialan!"

Hingga kembali tanpa kenapa

Hampa, mereka habis karena uang

Mati sia-sia


Tuan, tuan, tuan, Tuhan.

Yang agung dan tak tertandingi

Yang adil dan lagi mencintai keadilan

Yang Indah dan yang lagi memperindah


Lihatlah aku mengadahkan tangan

Akulah budak yang membudakkan diri

Akulah hamba yang menghambakan diri

Memohon dan sekali ini sedikit memaksa


Mataku buta tertumpah darah

Dari darah yang jatuh dari atas

Entah siapa yang dipanggil

Lalu tubuhnya diperas keras


Mataku buta tertumpah darah

Aku buta tapi menyaksikan kekejian mereka menyala dalam nyata

Rakus, rakus, rakus

Memakan habis tubuh bumi dan meminum darah rakyat


Mataku buta tertumpah darah

Manusia-manusia itu melihat tapi pura-pura buta

Sakit-sakit tapi di paksa harus baik-baik

Lalu berujung dimakamkan dalam sunyinya data-data yang kabur


Mataku buta tertumpah darah

Menyaksikan kenyataan berwarna merah

Setiap kita merasa gerah

marah-marah itu hangus di neraka


Mataku buta tertumpah darah

Dari darah tumbal serakah

Entah siapa, kenapa dan bagaimana bisa

Mantara; Binasa binasa binasalah mereka.


Comments