GMNI Fispol Bahas Kesarinahan, Sherlyn: Perempuan Jangan 'Dininabobokan' Oleh Modernitas

 

Sebagian peserta diskusi

ACTA DIURNA, Fispol - Secara normatif, kedudukan perempuan dengan pria adalah sejajar. Tetapi dalam kehidupan nyata dan stereotip masyarakat, perempuan sering kali terendahkan dengan pembedaan gender yang menempatkan status perempuan tidak sejajar dengan laki-laki dalam tatanan hierarkis.

Sebagai pelaksanaan program kerja pertama dari Biro Kesarinahan, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fispol) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, mengadakan Diskusi Sarinah via Google Meet, pada Kamis (15/7/2021).

Kegiatan yang bertemakan “Memahami Kedudukan Perempuan Dalam Kontestasi Politik” ini menghadirkan Sherlyn Tempoh mahasiswa Ilmu Politik Fispol sebagai pemateri, dengan moderator Celciane Kuada yang juga merupakan Ketua Biro Kesarinahan.

Diskusi yang berjalan satu setengah jam tersebut mengkaji mulai dari pergerakan emansipasi wanita oleh Kartini, hingga mengkritisi belum terpenuhinya angka 30% affirmative action kuota calon legislatif perempuan yang berpartisipasi di parlemen, meskipun sudah diberi peluang sebagai bentuk kebebasan kontestasi politik.

Affirmative action 30% yang belum terpenuhi itu salah satu aspeknya karena ada kendala internal pada diri perempuan sendiri. Masih banyak dari kaum perempuan yang belum sadar akan kapasitas dirinya untuk berkembang dalam masyarakat luas, juga modal dan pendidikan politik perempuan yang cenderung lemah,” kata Sherlyn.

Ia mengatakan bahwa dulu perempuan sulit mengakses ranah publik dan melakukan gerakan untuk menepis tradisi patriarki sehingga mereka tidak bisa berekspresi. Sekarang akses sudah luas, bahkan perempuan bisa diatas laki-laki.

"Perempuan harus lebih sadar posisi dirinya, bagaimana ruang publik sudah membuka kesempatan, dan perempuan harus lebih sadar bahwa perjuangan perempuan bukan untuk diri sendiri, tapi untuk masyarakat luas,” jelas perempuan yang akrab disapa sarinah Sherlyn tersebut.

“Masalah perempuan bukan diselesaikan sendiri, tapi diselesaikan bersama. Akses sepenuhnya terbuka untuk perempuan mendapatkan kesempatan di ruang publik. Tergantung pikiran perempuan ingin berkembang atau tidak, apakah dia ingin masuk menghadapi tantangan yang ada atau apakah hanya mau dininabobokan oleh modernitas saat ini. Biarlah dari diskusi ini kita sama-sama belajar, dan berbagi ilmu satu sama lain,” pungkasnya.

Sementara itu, Salsabila Ratu selaku Ketua GMNI Fispol Unsrat juga menambahkan aspek eksternal yang bisa mendorong sikap kritis dan konsistensi perempuan untuk maju melangkah.

“Aspek eksternal yang bisa memengaruhi diri perempuan untuk berkembang adalah orang luar, bisa jadi keluarga sendiri. Perempuan mungkin bisa bilang dirinya kuat dan konsisten terhadap yang dipilih sebagai jalannya. Walau mengaku mental kuat, jika termakan perkataan orang, itu cukup sulit berkembang,” tandasnya.

Reporter: Andini Choirunnisa

Editor: Brien Raintung

 

Comments