![]() |
| BKM Pers Mahasiswa "Acta Diurna" Fispol Unsrat bersama sejumlah media berita lokal ketika mewawancarai Rektor Unsrat. |
UNSRAT, ACTA DIURNA – Rektor Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado,
Prof. Dr. Ir. Ellen Joan Kumaat, M.Sc, DEA, memberikan tanggapannya atas
isu-isu yang beredar tentang semakin mahalnya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di
kampus berakreditasi A itu.
Dalam wawancara ACTA DIURNA bersama
Prof. Kumaat, beliau mengklarifikasi sejumlah kabar miring dan asumsi liar yang
beredar di masyarakat soal tingginya nominal UKT Unsrat; soal proses negosiasi UKT
yang telah ditiadakan; dan mengenai sistem penerimaan maba yang sudah menggunakan mekanisme komputerisasi.
“Saya sudah jelaskan
berkali-kali dibeberapa media bahwa Uang Kuliah Tunggal semenjak saya menjadi
Rektor dari tahun 2014 sampai 2019, tidak ada kenaikan apapun. Grade satu sampai delapan tetap sama dan
itu adalah permen (Peraturan Menteri, red), Surat Keputusan dari Peraturan
Menteri. Apanya yang naik? Itukan hanya isu-isu,” paparnya.
“Kalau sekarang ini tidak bisa
nego (UKT, red), itu iya. Karena sekarang mereka berhadapan dengan komputer dan
mereka yang mengisi sendiri data mereka dengan catatan tidak boleh bohong.
Kalau mereka bohong akan otomatis dikeluarkan atau mendapatkan nominal UKT yang
paling mahal, yaitu grade 8,” jelas Prof.
Kumaat saat ditemui dalam acara pembukaan PK2MB Unsrat, Senin (29/7/2019).
Lalu, ketika ditanyakan soal
sanksi rektorat kepada fakultas yang kedapatan sengaja menaikan harga UKT
kepada maba, Prof. Kumaat membantah akan adanya praktik seperti itu.
“Tidak ada, semua sudah online. Semua sudah diproses dengan
komputerisasi. Maba yang mendaftar kami minta data pekerjaan orangtuanya,
berapa penghasilannya, berapa bersaudara, semua data-data detail kami minta.
Dengan data itu komputer yang akan godok, lalu ditentukan akan masuk di grade berapa,” lugasnya.
“Kita tidak berhadapan dengan
manusia lagi. Karena kalau berhadapan dengan manusia, jika dia kaya bisa saja
berpakaian kere, atau orang kere akan berpakaian bagus, atau jika dia ojek dia
akan bilang pengusaha. Bayangkan kalau UI atau UGM menerima 20.000 mahasiswa,
apakah kita akan menggunakan cara manual? Kan tidak akan masuk akal. Kita
mengarah ke komputerisasi semuanya. Beasiswa sudah online, daftar wisuda sudah online,
penerimaan mahasiswa baru sudah online,
laporan kinerja dosen pun sekarang kita buat online sehingga tidak ada rekayasa,” ujar Prof. Kumaat.
Dengan demikian, Rektor Unsrat
menghimbau para pendaftar untuk mengintrospeksi diri sesaat sebelum dan sesudah
mengisi data identitas diri. “Kalau dia mau marah-marah pada komputer, kenapa
dia mengisi data dengan salah. Marahlah ke diri sendiri. Karena kalau cuma melalui
proses negosiasi, orang yang pintar membujuk pasti akan dapat harga (UKT, red) murah.
Sedangkan orang yang payah berbicara bisa dapat mahal. Sebab kalau data yang
telah digodok menggunakan sistem komputerisasi, tidak akan ada yang bisa
berbohong,” tutup Srikandi Unsrat itu.
Sementara itu, Pelaksana Tugas
(Plt) Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsrat, Tommy Tompolumiu,
memberikan pandangan lain soal isu kenaikan UKT Unsrat yang telah terlanjur dikonsumsi masyarakat Bumi Nyiur Melambai
maupun di lingkungan Unsrat sendiri.
“Untuk kondisi UKT saat ini,
yang saya lihat sangat memberatkan mahasiswa. Karena begitu banyak keluhan dari
para mahasiswa mengenai mahalnya biaya UKT. Mungkin saya tidak pernah melihat
secara langsung bagaimana kondisi kehidupan para maba, akan tetapi saya pernah
menerima keluhan langsung dari maba mengenai ketidakmampuan mereka untuk
melakukan pembayaran UKT,” ungkap Plt “01” mahasiswa Unsrat itu.
“Saran dari saya, pihak
universitas harus lebih terbuka lagi mengenai perubahan-perubahan yang terjadi
dalam proses penentuan dari UKT itu. Pihak rektorat juga harus bisa menjelaskan
secara konkrit mengenai persoalan kenaikan UKT yang terjadi di tahun ini, karena
masih begitu banyak teman-teman mahasiswa bahkan maba yang belum paham secara
keseluruhan tentang sistem baru yang telah digunakan Unsrat pada saat ini,”
pungkas Tommy. (Redaksi)
Penulis: Rezky Kumaat
Penulis: Rezky Kumaat

Comments
Post a Comment