Bersua Alumni Komunikasi Unsrat, Pers Mahasiswa Fispol Gelar PJTD

Tampak peserta sedang menerima materi dasar-dasar jurnalistik.

MANADO - Pekerjaan sebagai kuli tinta mulai digemari masyarakat Indonesia. Terlebih khusus kaum muda sekarang ini. Tak luput seperti pers mahasiswa Acta Diurna fakultas ilmu sosial dan politik (Fispol) Unsrat Manado. Banyak mahasiswa masuk dan bergabung di organisasi dalam fakultas tersebut. Seperti Sabtu (7/10) pers mahasiswa menggelar pelatihan jurnalistik tingkat dasar (PJTD) yang bertempat di Water Gold Talawaan Minahasa Utara (Minut). Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 wita, menghadirkan tiga pembicara yang tak lain putra jebolan komunikasi Unsrat yang telah berkembang dan sukses. 22 kader muda Acta Diurna terlihat sangat berkompeten dalam bidang jurnalistik terpantau dari simulasi yang dilakukan.

Dalam tiga pemateri yang diketahui ialah Marlon Sumarauw Direktur Manado Post Group, Jhon Senduk dosen dan pakar jurnalistik komunikasi Unsrat dan Dr Melky Kumaat yang juga dosen di Komunikasi. Dalam materi yang di bawa terlihat peserta begitu interaktif dalam mengikuti kegiatan. Pembicara yang berkopeten sangat menunjang kesuksesan acara tersebut.

Marlon Sumarauw Alumni Komunikasi yang membawa materi mengatakan, begitu enak menjadi wartawan. Bisa bertemu siapapun, kemanapun, bahkan bisa mewawancarai mereka yang mungkin menjadi idola kita. Marlon juga mengapresiasi kepada pers mahasiswa Acta Diurna karena mampu terbentuk dan menjadi pers pertama kali di Fispol maupun fakultas yang ada di Unsrat, yang sebelumnya tidak pernah angkatan lain lakukan. "Jenjang karir selama di Manado Post bukan langsung instan, dari reporter biasa sampai di promosikan untuk naik jabatan menjadi proses," ujar alumni tahun 1999 ini.

Marlon juga memberikan resep untuk mahasiswa peserta PJTD untuk kesulitan pada awal menulis berita memang akan dialami namun menulis saja pasti akan akan terbiasa dengan sendirinya. Walaupun belum sempurna namun dengan membiasakan menulis pasti akan membuat peserta bisa menjadi reporter hebat. "Banyak yang memprediksi koran akan mati tergilas dengan media sosial, namun bagi kami pekerja media memprediksikan hal tersebut tak akan terjadi," ungkapnya sembari mengatakan dahulu kemunculan radio membuat prediksi koran akan mati namun hal tersebut tak mampu terjadi.

Pakar jurnalistik Drs Jhon Senduk yang tanpak membawakan materi tentang dasar-dasar jurnalistik menjelaskan dalam penulisan berita harus cover bord site yaitu berimbang dan netral, dalam penulisan berita juga harus menggunakan 5 W 1 H yang menjadi kewajiban utama dalam struktur penulisan berita. Untuk berbagai masalah yang di hadapi jurnalis di lapangan menurut Senduk adalah tugas dari mereka karna wartawan adalah panggilan jiwa. Kebenaran berita dan pertanggung jawaban berita harus menjadi faktor utama yang jadi tugas wartawan. "Untuk berbagai masalah seperti plagiat berita menjadi dosa pangkat dua. Karena pertama melanggar kode etik wartawan, kedua tidak bisa di pertanggung jawabkan," ujar Senduk sembari menambahkan wartawan juga harus berpatokan jelas dalam aturan yang di atur dalam UU Pers.

Materi yang terakhir di tutup Dr Melky Kumaat yang di ketahui menjadi pemred di media online komunikas sulut.com media produktif di Sulut dan juga pengamat politik mengatakan setiap proses pencarian berita harus di matangkan terlebih dahulu, mengetahui bahan liputan harus di kuasai sang peliput. Serta metode wawancara dan pertanyaan pada narasumber harus disiapkan agar wartawan terlihat mengusai materi yang jadi topik wawancara. Karena setiap wawancara juga memiliki karakteristik yang berbeda pada barasumber yang berbeda. Namun ketika kemauan yang besar dan pelatihan yang matang akan menghasilkan kader jurnalis yang hebat. "Beberapa tahun kedepan dengan progres yang dilakukan pers mahasiswa acta diurna akan membuat perusahan media di Sulut akan di banjiri jurnalis yang handal dan siap pakai," ungkapnya sembari menambahkan pers mahasiswa harus mampu mengkritik namun juga harus bisa solutif.

Ketua panitia Sandy Sein mengungkapkan, acara ini dilakukan agar kader pers mahasiswa acta diurna bisa memiliki pengetahuan yang luas, jiwa independent yang tinggi serta tidak manja. "Dengan hadirnya pembicara dari orang-orang yang sukses kiranya kader muda acta diurna punya daya saing yang lebih. Serta menambah sinergritas antara pers mahasiswa dengan beberapa media besar di Sulut," pungkas pria kelahiran ternate tersebut. (TimActa)

Comments